KEPRIBADIAN SEHAT MENURUT ROGER , MASLOW , FROMM DAN ALLPORT
A.Pokok-pokok Teori Carl Rogers
1902 - 1987
Rogers (1902-1987) menjadi terkenal berkat metode terapi yang
dikembangkannya, yaitu terapi yang berpusat pada klien (client-centered
therapy). Tekniknya tersebar luasdi kalangan pendidikan,bimbingan, dan
pekerja sosial. Rogers sangat kuat memegangasumsinyabahwa manusia itu bebas,
rasional, utuh, mudah berubah, subjektif, proaktif, heterostatis, dan sukar
dipahami (Alwisol, 2005 : 333).
Pokok-pokok
Teori Carl Rogers :
a.
Struktur kepribadian
Rogers
lebih mementingkan dinamika dari pada struktur kepribadian. Namun demikian ada
tiga komponen yang dibahas bila bicara tentang struktur kepribadian menurut
Rogers, yaitu : organisme, medan fenomena, dan self.
1)
Organime, mencakup :
a)
Makhluk hidup
Organisme
adalah makhluk ; lengkap dengan fungsi fisik dan psikologisnya, tempat semua
pengalaman dan segala sesuatu yang secara potensial terdapat dalam kesadar
setiap saat.
b)
Realitas subjektif
Organisme
menanggapi dunia seperti yang diamati atau dialaminya. Realita adalah medan
persepsi yang sifatnya subjektif, bukan benar-salah.
c)
Holisme
Organisme adalah
kesatuan sistem, sehingga perubahan pada satu bagian akan mempengaruhi bagian
lain. Setiap perubahan memiliki makna pribadi atau bertujuan, yakni tujuan
mengaktualisasi, mempertahankan, dan mengembangkan diri.
2)
Medan fenomena
Rogers
mengartikan medan fenomena sebagai keseluruhan pengalaman, baik yang internal
maupun eksternal, baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Medan fenomena merupakan seluruh
pengalaman pribadi seseorang sepanjang
hidupnya.
3) Self
Self merupakan konsep pokok dari teori
kepribadian Rogers, yang intinya adalah :
a) terbentuk melalui medan
fenomena dan melalui introjeksi nilai-nilai orang tertentu;.
b) bersifat integral dan konsisten;
c) menganggap pengalaman yang tak sesuai
dengan struktur self sebagai ancaman;
d) dapat berubah karena kematangan dan
belajar.
b.
Dinamika kepribadian
Menurut
Rogers, organisme mengaktualisasikan dirinya menurut garis-garis yang
diletakkan oleh hereditas. Ketika organisme itu matang maka ia makin
berdiferensiasi, makin luas, makin otonom, dan makin tersosialisasikan. Rogers
menyatakan bahwa pada dasarnya tingkah laku adalah usaha organisme yang berarah
tujuan untuk memuaskan
kebutuhan-kebutuhannya
sebagaimana dialami, dalam medan sebagaimana medan itu dipersepsikan (Hall dan
Lindzey, 1995 :136-137).
Rogers
menegaskan bahwa secara alami kecenderungan aktualisasi akan menunjukkan diri
melalui rentangan luas tingkah laku, yaitu :
1) Tingkah laku yang berakar pada proses fisiologis, termasuk
kebutuhan dasar (makana, minuman, dan udara), kebutuhan mengembangkan dan
merinci fungsi tubuh serta generasi.
2)
Tingkah laku yang berkaitan dengan motivasi psikologis untuk menjadi diri
sendiri.
3) Tingkah laku yang tidak meredakan ketegangan tetapi justru
meningkatkan tegangan, yaitu tingkah laku yang motivasinya untuk berkembang dan
menjadi lebih baik.
c.
Perkembangan kepribadian
Rogers
tidak membahas teori pertumbuhan dan perkembangan, namun dia yakin adanya
kekuatan tumbuh pada semua orang yang secara alami mendorong proses organisme
menjadi semakin kompleks, otonom, sosial, sdan secara keseluruhan semakin
aktualisasi diri.
Rogers
menyatakan bahwa self berkembang secara utuh-keseluruhan, menyentuh semua
bagian-bagian. Berkembangnya self diikuti oleh kebutuhan penerimaan positif,
dan penyaringan tingkah laku yang disadari agar tetap sesuai dengan struktur
self sehingga dirinya berkembang menjadi pribadi yang berfungsi utuh.
Pribadi
yang berfungsi utuh menurut Rogers adalah individu yang memakai kapasitas dan
bakatnya, merealisasi potensinya, dan bergerak menuju pemahaman yang lengkap
mengenai dirinya sendiri dan seluruh rentang pengalamannya. Rogers
menggambarkan 5 ciri kepribadian yang berfungsi sepenuhnya sebagai berikut :
1)
terbuka untuk mengalami (openess to experience);
2)
hidup menjadi (existential living);
3)
keyakinan organismik (organismic trusting);
4)
pengalaman kebebasan (experiental freedom);
5)
kreativitas (creativity)
B.Pokok-pokok Teori Abraham Maslow
1909 - 1970
Oleh
karena eksistensialisme menekankan pada anggapan bahwa manusia memiliki
kebebasan dan bertanggung jawab bagi tindakan- tindakannya, maka pandangan-
pandangan eksistensialisme menarik bagi para ahli psikologi humanistik dan
selanjutnya dijadikan landasan teori psikologi humanistik. Adapun pokok-pokok
teori psikologi humanistik yang dikembangkan oleh Maslow adalah sebagai berikut
(Koeswara, 2001 :112-118 dan Alwisol 2005 : 252-270)
1.Prinsip
holistik
Menurut
Maslow,holisme menegaskan bahwa organisme selalu berting-kah laku sebagai
kesatuan yang utuh, bukan sebagai rangkaian bagian atau komponen yang berbeda.
Jiwa dan tubuh bukan dua unsur yang terpisah tetapi bagian dari suatu kesatuan,
dan
apa
yang terjadi pada bagian yang satu akan mempengaruhi bagian yang lain.
Pandangan holistik dalam kepribadian, yang terpenting adalah :
a.
Kepribadian normal ditandai dengan unitas, integrasi, konsistensi, dan
koherensi. Organisasi adalah keadaan normal dan disorganisasai adalah keadaan
patologis (sakit).
b.
Organisme dapat dianalisis dengan membedakan tiap bagiannya, tetapi tidak ada
bagian yang dapat dipelajari dalam isolasi.
c.
Organisme memiliki suatu dorongan yang berkuasa, yaitu aktualisasi diri.
d.
Pengaruh lingkungan eksternal pada perkembangan normal bersifat minimal.
Potensi organisme jika bisa terkuak di lingkungan yang tepat akan menghasilkan
kepribadian yang sehat dan integral.
e.
Penelitian yang komprehensif terhadap satu orang lebih berguna dari pada
penelitian ekstensif terhadap banyak orang mengenai fungsi psikologis yang
diisolasi.
2.
Individu adalah penentu bagi tingkah laku dan pengalamannya sendiri.
Manusia
adalah agen yang sada, bebas memilih atau menentukan setiap tindakannya. Dengan
kata lain manusia adalah makhluk yang bebas dan bertanggung jawab.
3.
Manusia tidak pernah diam, tetapi selalu dalam proses untuk menjadi sesuatu
yang lain dari sebelumnya (becoming).
Namun
demikian perubahan tersebut membutuhkan persyaratan, yaitu adanya lingkungan
yang bersifat mendukung.
4.
Individu sebagai keseluruhan yang integral, khas, dan terorganisasi.
5.
Manusia pada dasarnya memiliki pembawaan yang baik atau tepatnya netral.
Kekuatan
jahat atau merusak pada diri manusia merupakan hasil atau pengaruh dari lingkungan
yang buruk, dan bukan merupakan bawaan.
6.
Manusia memiliki potensi kreatif yang mengarahkan manusia
kepada pengekspresian dirinya menjadi orang yang memiliki kemampuan atau
keistimewaan dalam bidang tertentu.
7.Self-fulfillment merupakan
tema utama dalam hidup manusia.
8.
Manusia memiliki bermacam-macam kebutuhan yang secara hirarki dibedakan menjadi
sebagai berikut (Boeree, 2004)
(1)kebutuhan-kebutuhan
fisiologis (the physiological needs)
(2)kebutuhan
akan rasa aman (the safety and security needs)
(3)
kebutuhan akan cinta dan memiliki (the love and belonging
needs)
(4)kebutuhan
akan harga diri (the esteem needs)
(5)kebutuhan
akan aktualisasi diri (the self-actualization needs)
PIRAMIDA KEBUTUHAN
SOSIAL
C.Pokok-pokok Teori Erich Fromm
Fromm melihat kepribadian hanya sebagai
suatu produk kebudayaan. Karena itu dia percayabahwa kesehatan jiwa harus di
definisikan menurut bagaimana baiknya masyarakat menyesuaikan diri dengan
kebutuhan-kebutuhan dasar semua individu, bukan menurutbagaimana baiknya
individu-individu menyesuaikan diri dengan masyarakat. Karena itu kesehatan
psikologis tidak begitu banyak merupakan usaha masyarakat.
Faktor kunci ialah bagaimana suatu
masyarakat memuaskan secukupnya kebutuhan-kebutuhan manusia.
Sebagai hasil perkembangan dari analisis-analisis
historisnya, Fromm melukiskan hakikat keadaan manusia sebagai kesepian dan
ketidakberartian. Menurut Fromm, kita adalah makhluk yang unik dan kesepian.
Sebagai akibat evolusi kita dari binatang-binatang yang lebih rendah, kita
tidak lagi bersatu dengan alam, kita telah mengatasi alam. Tidak sepertitingkah
laku binatang, tingkah laku kita tidak terikat pada mekanisme-mekanisme
instinktif.Akan tetapi perbedaan yang sangat penting antara manusia dan
binatang yang lebih rendah terletak pada kemampuan kita
akan kesadaran diri, pikiran, dan khayal. Kita mengetahui bahwa
kita akhirnya tidak berdaya, kita akan mati, dan terpisah dari
alam. Fromm mengemukakan lima kebutuhan yang berasal dari dikotomi
kebebasan dan keamanan diantaraya:
“Hubungan, Trasendensi. Berakar, Perasaan
id entitas, Kerangka orientasi”
Secara
singkat, teori kepribadian yang digagas Fromm sebagai berikut :
a. Kebebasan manusia yang semakin luas, menempatkan
manusia merasa semakin kesepian, dengan kata lain kebebasan menjadikan keadaan
yang negatif dimana manusia-manusia melarikan diri (Fromm,1941 dalam
Supardan,2008:489)
b. Manusia selalu berusaha memecahkan kontradiksi-kontradiksi yang ada padanya. Maksudnya bahwa seorang pribadi merupakan bagian, sekaligus terpisah dari alam; merupakan binatang, dan sekaligus manusia.
c. Aspek individu, yakni aspek binatang dan aspek menusia merupakan kondisi-kondisi dasar eksistensi manusia, yang berasumsi bahwa; “Pemahaman tentang psikhe manusia harus berdasarkan manusia tentang kebutuhan manusia yang berasal dari kondisi-kondisi eksistensinya (Fromm,1955 dalam Supardan,2008:489).
d. Kepribadian orang akan berkembang menurut kesempatan yang diberikan kepadanya oleh masyarakat tertentu.
e. Sebagai manusia tidak lepas dari pasangan tipe karakter nekrofilus dan biofilus. Nekrofilus adalah orang yang tertarik pada kematian, sedangkan biofilus adalah orang yang mencintai kehidupan.
f. Sekarang ini lima tipe masyarakat sudah demikian
menggenjala, berbeda dengan masa-masa sebelumnya, seperti reseptif,
eksploitatif, penimbunan, pemasaran, dan produktif.
GORDON ALLPORT
Allport, salah sorang diantara empat putra
seorang dokter, lahir di Indiana pada tahun 1887, tetapi dibesarkan di
Cleveland dimana ia mendapat pendidikan awal di sekolah-sekolah negeri. Ia
menyelesaikan pelajaran undergraduate-nya di Universitas Harvard pada
saat kakaknya, Floyd, menjadi mahasiswa tingkat sarjana (graduate) dalam
psikologi pada universitas yang sama. Setelah mendapat gelar sarjana muda pada
tahun 1919 dengan mayor ekonomi dan filsafat, Allport selama satu tahun
mengajar sosiologi dan bahasa Inggris pada Robert College di Istambul.
Kemudian ia kembali ke Harvard dan menyelesaikan Ph.D-nya dalam bidang
psikologi pada tahun 1922. Selama 2 tahun berikutnya (tahun 1922 - 1924) ia
belajar di Berlin, Hamburg, dan Cambridge (Inggris).
Pengalaman yang luas di luar negeri
ini berperanan dalam mengembangkan perhatiannya yang besar terhadap soal-soal
internasional dan hal ini nyata sekali dalam kegiatan-kegiatan Allport selama
30 tahun terakhir. Hal tersebut jugalah yang menyebabkan Allport selama satu
decade atau lebih menjadi salah seorang juru tafsir utama psikologi Jerman di
Amerika. Sekembalinya dari Eropa, ia menerima jabatan sebagai instruktur pada Department
of Social Ethick di Universits Harvard. Jadi, disini tampaknya terdapat
kontinuitas antara mengajarnya yang pertama di Amerika dengan perhatian Allport
yang tetap terhadap masalah-macalah yang mengandung implikasi social etis.
Sesudah dua tahun, ia menerima jabatan lector psikologi di Darmouth College,
tetapi diundang supaya kembali ke Harvard pada tahun 1930, dimana ia tinggal
sampai kematiannya pada tanggal 9 Oktober 1967, sebulan menjelang ulang
tahunnya yag ke-70. Setahun sebelum kematiannya. Ia diangkat menjadi Professor
Richard Cabot dalam bidang Etika Sosial yang pertama. Allport adalah salah
seorang diantara tokoh-tokoh utama dalam gerakan internasional yang mendorong
pembentukan Department of Social Relations di Universitas Harvard, dalam
rangka mewujudkan integrasi secara sebagian antara psikologi, sosiaologi, dan
antropologi.
Teori – Teori Allport
Secara umum teori Allport memberi
definisi yang positif terhadap manusia, teori Allport itu telah membantu
manusia untuk melihat diri sendiri sebagai mahkluk yang baik dan penuh harapan.
Hal tersebut terlihat dari teorinya, yaitu ”gambaran kodrat manusia adalah
positif, penuh harapan dan menyanjung-nyanjung”. Memandang satu pribadi positif
dan apa adanya merupakan salah satu definisi pribadi sehat, inilah kelebihan
dan kekuasan dari teori Allport.
Kepribadian manusia menurut Allport
adalah organisasi yang dinamis dari system psikofisik dalam individu yang
turut menentukan cara-caranya yang unik atau khas dalam menyesuaikan diri
dengan lingkungannya.
Kemudian Allport juga berpendapat
bahwa kepribadian yang neurotis dan kepribadian yang sehat merupakan hal yang
mutlak terpisah. Namun dalam hal ini tang menjadi kelebihan Allport adalah
tentang antisipasi, Dalam teori Allport antisipasi adalah penting untuk
menentukan siapa dan apakah kita ini, dalam membentuk identitas diri kita.
Dalam teori Allport juga memandang
bahwa kesehatan psikologis adalah melihat ke depan, tidak melihat ke belakang,
dapat dikatakan bahwa seluruh teori yang dikemukakan oleh Allport ini sangat
bertentangan dengan teori-teori yang dikemukakan oleh Freud.
Perkembangan Proprium
Allport mengemukakan bahwa semua
fungsi diri atau fungsi ego yang telah dijelaskan disebut dengan fungsi
proprium dari kepribadian. Fungsi-fungsi ini termasuk perasaan jasmaniah,
identitas diri, harga diri, perluasan diri, rasa keakuan, pemikiran rasional,
gambaran diri, usaha proprium, gaya kognitif dan fungsi mengenal. Semuanya
merupakan bagian yang sebenarnya dan vital dari kepribadian. Fungsi-fungsi tersebut
sama-sama memiliki suatu arti fenomenal dan “ makna penting”. Fungsi-fungsi itu
bersama disebut sebagai proprium. Proprium itu tidak dibawa sejak lahir,
melainkan berkembang karena usia.
Allport menunjukkan tujuh aspek
dalam perkembangan proprium atau ke-diri-sendiri-an (self hood). Selama 3 tahun
pertama, tiga aspek muncul, yakni : rasa diri jasmaniah, rasa identitas-diri
berkesinambungan dan harga-diri atau rasa bangga. Antara usia 4 sampai 6 tahun,
dua aspek lainnya muncul, yakni : perluasan diri (the extension of self), dan
gambaran diri. Suatu waktu antara usia 6 dan 12 tahun, anak mengembangkan
kesadaran-diri sehingga ia dapat menanggulangi masalah-masalahnya dan akal
pikiran. Selama masa remaja, munculah intensi-intesi, tujuan-tujuan jangka panjang,
dan cita-cita yang masih jauh. Aspek-aspek ini disebut usaha proprium.
Dengan penjelasan seperti dia atas,
Allport ingin menghindari pendapat yang mengundang pertanyaan dari banyak
teoritikus yang menyatakan bahwa diri atau ego itu serupa manusia mikro (homunculus)
atau “manusia yang berada di dalam dada” yang melakukan tugas
mengorganisasikan, memegang kendali dan menjalankan sistem kepribadian. Ia
mengakui pentingnya semua fungsi psikologis yang bersumber pada diri dan ego,
namun ia berusaha keras menghindari teori yang memandang diri dan ego sebagai
pelaku atau penggerak kepribadian. Bagi allport, diri dan ego dapat digunakan
sebagai kata sifat untuk menunjukkan fungsi-fungsi proprium di dalam seluruh
bidang kepribadian.
Ciri-Ciri Kepribadian yang Matang
Menurut Allport
Menurut Allport, faktor utama
tingkah lalu orang dewasa yang matang adalah sifat-sifat yang terorganisir dan
selaras yang mendorong dan membimbing tingkah laku menurut prinsip otonomi
fungsional.
Kualitas Kepribadian yang matang
menurut allport sebagai berikut:
1. Ekstensi sense of self
· Kemampuan berpartisipasi dan
menikmati kegiatan dalam jangkauan yang luas.
· Kemampuan diri dan minat-minatnya
dengan orang lain beserta minat mereka.
· Kemampuan merencanakan masa depan
(harapan dan rencana)
2. Hubungan hangat/akrab dengan
orang lain
Kapasitas intimacy (hubungan
kasih dengan keluarga dan teman) dan compassion (pengungkapan
hubungan yang penuh hormat dan menghargai dengan setiap orang)
3. Penerimaan diri
Kemampuan untuk mengatasi reaksi
berlebih hal-hal yang menyinggung dorongan khusus (misal : mengolah dorongan
seks) dan menghadapi rasa frustasi, kontrol diri, presan proporsional.
4. Pandangan-pandangan realistis,
keahlian dan penugasan
Kemampuan memandang orang lain,
objek, dan situasi. Kapasitas dan minat dalam penyelesaian masalah, memiliki
keahlian dalam penyelesain tugas yang dipilih, mengatasi pelbagai persoalan
tanpa panik, mengasihani diri, atau tingkah laku lain yang merusak.
5. Objektifikasi diri: insight
dan humor
Kemampuan diri untuk objektif dan
memahami tentang diri dan orang lain. Humor tidak sekedar menikmati dan tertawa
tapi juga mampu menghubungkan secara positif pada saat yang sama pada
keganjilan dan absurditas diri dan orang lain.
6. Filsafat Hidup
Ada latar belakang yang mendasari
semua yang dikerjakannya yang memberikan tujuan dan arti. Contohnya lewat
agama.
Untuk memahami orang dewasa kita
membutuhkan gambaran tujuan dan aspirasinya. Tidak semua orang dewasa memiliki
kedewasaan yang matang. Bisa saja seseorang melakukan sesuatu hal tanpa tahu
apa yang ia lakukan.
Struktur dan Dinamika Kepribadian
Organisasi dinamis dalam seseorang
yang terdiri dari sistem-sistem psikofisis yang menentukan keunikan penyesuaian
dirinya dengan lingkungan. Dua hal yang menjadi tekanan utama adalah
kepribadian merupakan sesuatu yang berkembang dan unsur-unsurnya saling
terkait. Dalam pencarian definisi kepribadiannya Alllport dengan hati-hati
menyadari istilah karakter dan temperamen.
· Karakter (watak) adalah segi
kepribadian yang dinilai. Seseorang sering dinilai memiliki karakter baik atau
buruk.
· Temperamen adalah disposisi yang
erat kaitannya dengan faktor biologis atau fisik. Dalam hal ini hereditas
memainkan peranan penting dan bersama intelegensi dan fisik membentik kepribadian.
Sifat-sifat dan Disposisi-disposisi
Personal
Sifat adalah Kecenderenungan untuk
berespons dengan cara tertentu ; tendensi neuropsiki. Sifat bukanlah bentukan
konsep abstrak lewat sebuah pengamatan melainkan kenyataan objektif. Selain itu
sifat juga bukanlah sekedar eksistensi nominal.
- Sifat umum : ciri-ciri (sifat) yang terdapat pada banyak orang.
- Disposisi Personal: keunikan-kekhususan (sifat) pada individu
Contoh :
Dalam sebuah kelompok ada 20 orang
menunjukkan sifat keagresifan (common trait). Tapi kita tidak bisa
mengtakan 20 orang itu menunjukkan/mewujudkan keagresifannya lewat jalan yang
sama. Mungkin ada yang asertif dan kompetitif, sarkastic dan bermusuhan, dan
mungkin lewat kekerasan fisik. Personal deposisi dapat disebut sebagai sub
kategori atau jalan khusus sifat terwujud.
Sifat tidak hanya membimbing suatu
tingkah laku tapi juga memulai tingkah laku dan dalam beberapa hal memerankan
peran memotivasi yang penting.
Contoh :
Seseorang yang punya sifat
ramah/suka bergaul, tidak suka duduk sendiri di rumah menunggu orang lain
menghubunginya. Dia akan mencari teman-temannya.
Akan tetapi sebuah sifat tidak
pernah sebagai motivator murni tingkah laku beberapa dorongan baik internal
maupun eksternal yang mendahului tindakan.
Contoh :
Jika seseorang suka pergi ke disko,
secara umum dia orang yang suka bergaul tapi ada tingkah laku khusus bahwa dia
suka mendengarkan musik.
Hubungan Sifat, Kebiasaan, Sikap dan
Tipe
Keempat hal tersebut merupakan
kecenderungan (predisposisi) yang unik, hasil dari faktor genetik dan
pembelajaran dan mendorong/menuntun tingkah laku seseorang .
§ Kebiasaan: Kurang lebih umum (
sifat /trait paling umum) , respons khusus pada stimulus tertentu, kurang
evaluatif.
Contoh: Huming ketika
mendengarkan musik, membaca dengan bersuara.
§ Sikap : lebih umum dari kebiasaan,
penekanan segi lingkungan (kecenderungan untuk berespon positif atau negatif
terhadap objek tertentu), paling evaluatif.
Contoh: Kesukaan terhadap partai,
atau makanan tertentu.
§ Tipe: Abstraksi/pengelompokan
sifat-sifat; mementingkan keajegan/keteraturan sekumpulan sifat. Akan tetapi
tipe menyembunyikan (sifat)keunikan pribadi dan menunjukan perbedaan perbuatan
yang tidak begitu cocok dengan kenyataan.
Disposisi Pokok, Disposisi Sentral
dan Disposisi Sekunder
§ Disposisi Pokok :Sesuatu yang
begitu umum sehingga dapat ditemukan pada setiap individu.
Contoh :
Orang Narcistik adalah orang yang
memberikan perhatian kuat dan terus-menerus pada kebutuhan dan ketertarukannya.
§ Disposisi Sentral: Kecenderungan
karakter yang kuat (khas) pada seseorang.
Contoh:
Mungkin kita menggambarkan karya
Shakespeare (Hamlet) introspektif, obsesif, melankolis, dramatik.
§ Disposisi Sekunder: Berfungsi
terbatas, kurang menentukan dalam deskripsi kepribadian dan lebih terpusat pad
respon yangt dicocokinya.
Contoh:
Seseorang yang menyenangkan, mungkin
meledak marah ketika seseorang menghina kelompoknya.
Dua kekhususan teori Allport adalah
penolakannya pada masa lalu yang mengambil bagian penting dalam motivasi dan
ketegasannya dalam proses kognitif seperti intensi, perencanaan pada motivasi
orang dewasa. Apa yang dilakukan oleh individu adalah kunci petunjuk yang
penting tentang bagaimana orang bertingkah laku sekarang. Allport mencari ke
masa depan apa yang diharapkan oleh individu.
Perkembangan Kepribadian Self
Self merupakan satu-satunya
sepribadian yang sebenarnya. Dengan kata lain self dibentuk melalui
deferiensiasi medan fenomena dan melalui introjeksi nilai-nilai orang tertentu
serta dari distorsi pengalaman. Self bersifat integral dan konsisten.
Pengalaman yang tidak sesuai dengan struktur self dianggap ancaman dan self
dapat berubah sebagai akibat kematangan biologic dan belajar. Konsep self
menggambarkan konsepsi mengenai dirinya sendiri, ciri-ciri cerdas,
menyenangkan, jujur, baik hati dan menarik.
Peranan Positif Regards
dalam hidupnya, manusia selalu
mempunyai perasaan dan kebutuhan untuk dicintai, disukai dan diterima oleh
orang lain.dan oleh karena itu self akan berkembang secara utuh-keseluruhan,
menyentuh semua bagian-bagian jika tercapai.
Ciri Orang yang Berfungsi Sepenuhnya
1) Keterbukaan terhadap pengalaman
(openness to experience)
adalah salah satu dari lima wilayah utama kepribadian yang
ditemukan oleh para psikolog. Keterbukaan aktif melibatkan imajinasi, estetika
sensitivitas, perhatian terhadap perasaan batin, preferensi untuk berbagai, dan
keingintahuan intelektual. Sebagian besar psikometrik penelitian telah menunjukkan bahwa
kualitas ini secara statistik berkorelasi. Dengan demikian, keterbukaan dapat
dipandang sebagai ciri kepribadian global yang terdiri dari satu set ciri-ciri
khusus, kebiasaan, dan kecenderungan yang berkumpul.
2) hidup menjadi (existential
living)
sebagian didasarkan pada eksistensial keyakinan bahwa manusia sendirian di
dunia. Perasaan kesendirian ini menyebabkan perasaan ketakbermaknaan yang dapat
diatasi hanya dengan orang itu sendiri menciptakan nilai-nilai
dan makna. Ini menunjukkan bahwa dalam membuat pilihan-pilihan kita
sendiri kita menerima tanggung jawab penuh atas hasil dan menyalahkan siapa pun
kecuali diri kita sendiri jika hasilnya kurang dari apa yang diinginkan.
3) keyakinan organismik (organismic
trusting)
Mempercayai seseorang pikiran dan
perasaan sebagai akurat. Lakukan apa yang datang secara alami.
4) pengalaman kebebasan (experiental
freedom)
Untuk mengakui kebebasan seseorang
dan bertanggung jawab atas tindakan sendiri.
5) kreativitas (creativity)
Full partisipasi di dunia, termasuk
memberikan kontribusi bagi kehidupan orang lain
Otonomi Fungsioanal
Otonomi fungsional memandang
motivasi dewasa bermacam-macam, sistem self sustaining, pertumbuhan
sistem antecedent, tapi secara fungsional tak terkait. Otonomi
fungsional juga pendorong dan pembentukan perilaku masa kini dan lepas lepas
dari masa lalu. Apa yang dilakukannya semata-mata dikhususkan begitu saja demi
tujuan berbeda dari semula.
Contoh:
Seorang pemburu tetap saja kan
memburu meskipun tidak ada nilai instrumentalnya (semata-mata senang berburu)
- Perseverative Otonomi Fungsional : meliputi bentuk-bentuk kecanduan,mekanisme sirkular, perbuatan yang diulang-ulang atau secara rutin. Orang dewasa yang sehat ditandai dengan serangkaian sifat yang teratur dan kongruen yang berfungsi sebagaian besar secara rasional dan sadar. Maka untuk memahami orang dewasa maka harus memahami maksud dan aspirasi mereka.
Contoh :
Tindakan seorang anak yang mengoceh
berulang-ulang, tugas yang belum selesai mendapat interupsi dan cenderung
diingat dari pada tugas yang selesai.
- Propriate Otonomi Fungsional : meliputi minat-minat yang dipelajari, nilai-nilai, sentimen-sentimen, motif-motif pokok, disposisi pribadi, gambaran diri dan gaya hidup. Manusia selalu dalam proeses untuk menjadi lebih integral dan daya penyatiu yang paling penting adalah propriate function, dimana usaha mengejar tujuan yang membentuk kepribadian.
Contoh:
Seseorang yang ingin menjadi dokter
bukanlah merupakan sifat bawaan atau karena diperlukan tapi belajar untuk
hidup.
Perkembangan Kepribadian
Allport melihat bahwa anak yang baru
lahir sebagai seorang ciptaan keturunan, hanya memiliki dorongan primitif, dan
tingkah laku reflek ,tidak memiliki kepribadian tapi memiliki potensi yang akan
terpenuhi atau terbentuk pada saat pertumbahan dan pematangannya. Dalam
Perkembangan Proprium Allport membagi dalam beberapa tahap sebagai berikut:
1) 0-3 tahun :
Pembanguanan keadaran diri : sense
of bodily self (enak tidak enak), perasaan identitas diri berkelanjutan
kesadaran sebagai subjek yang berkembang. Dalam hal ini bahasa menjadi faktor
yang penting. Harga diri atau kebanggaan sebagai periode terakhir dimanan\ anak
ingin melakukan sesuatu, membuatnya terwujud, dan mengontrol dunianya.
2) 4-6 tahun:
Perluasan diri dan gambaran diri.
Dalam perluasan diri, perasaan keterhubungan dengan orang-orang dan hal-hal
yang penting dalam lingkungannya. Relasi anak dan lingkungan tempat dia tumbuh
terhubung sangat penting. Muncul perasaan lingkuangan tersebut adalah bagian
dirinya. Gambaran diri; terkait dengan penanaman-penanaman nilai, tangung jawab
moral, intensi, tujuan dan pengetahuan diri yang akan berperan mencolok dalam
kepribbadiannya kelak.
3) 6-12 tahun:
Kesadaran diri. Pengenalan
kemampunan diri mengatasi persoalan-persoalan dengan alasan dan gagasan karena
anak bergerak dari lingkungan keluarga ke masyarakat.
4) Remaja
Propriate striving, pembanguanan tujuan dan rencana ke
depan: intensi-intensi, long-range purposes,distant goals.Persoalan
utama berkaitan dengan identitas, ”apakah saya seorang anak atau dewasa?”
5) Kedewasaan
Menurut Allport, faktor utama
tingkah lalu orang dewasa yang matang adalah sifat-sifat yang terorganisir dan
selaras yang mendorong dan membimbing tingkahlaku menurut prinsip otonomi
fungsional.
Kualitas Kepribadian yang matang
sebagai berikut:
Ekstensi sense of self
Kemampuan berpartisipasi dan menikmati
kegiatan dalam jangkauan yang luas.
Contoh : terlibat dalam kegiatan masyarakat
(senat, karang taruna, partai politik,dll)
Kemampuan diri dan minat-minatnya
denga orang lain beserta minat mereka.
Contoh: Saya yang punya minat dalam olah
raga juga mengenali minat oprang lain yang sama atau pun berbeda.
Kemampuan merencanakan masa depan
(harapan dan rencana)
contoh: Keinginan jadi dokter, membuat
perencanaan strudi dan membayangkan apa yang mau dilakuakn setelah jadi dokter.
Hubungan hangat/akrab dengan orang
lain
Kapasitas intimacy (hubungan
kasih dengan keluarga dan teman) dan compassion (pengungkapan
hubungan yang penuh hormat dan menghargai dengan setiap orang)
Penerimaan diri
Kemampuan untuk mengatasi reaksi
berlebih hal-hal yang menyinggung dorongan khusus (misal : mengolah dorongan
seks) dan menghadapi rasa frustasi, kontrol diri, presan proporsional.
Pandangan-pandangan realistis,
keahlian dan penugasan
Kemampuan memandang orang lain,
objek, dan situasi. Kapasitas dan minat dalam penyelesaian masalah, memiliki
keahlian dalam penyelesain tugas yang dipilih, mengatasi pelbagai persoalan
tanpa panik, mengasihani diri, atau tingkah laku lain yang merusak.
Objektifikasi diri: insight dan
humor
Kemampuan diri untuk objektif dan
memahami tentang diri dan orang lain. Humor tidak sekedar menikmati dan tertawa
tapi juga mampu menghubungkan secara positif pada saat yang sama pada
keganjilan dan absurditas diri dan orang lain.
Filsafat Hidup
Ada latar belakang yang mendasari
semua yang dikerjakannya yang memberikan tujuan dan arti. Contohnya lewat
agama.
Untuk memahami orang dewasa kita
membutuhkan gambaran tujuan dan aspirasinya. Tidak semua orang dewasa memiliki
kedewasaan yang matang. Bisa saja seseorang melakukan sesuatu hal tanpa tahu
apa yang ia lakukan.
Beberapa catatan mengenai Teori
Allport
Kekurangan Allport pada persamaan
formal sehingga tidak memadai untuk banyak penelitian, gagal menunjukkan konsep
pokok yaitu fungsi otonomi, mengasumsikan adanya diskontinuitas antara
hewan-manusia, masa kanak-kanak dan dewasa, normal dan abnormal, menekankan
keunikan kepribadian, memberikan perhatian yang terlalu sedikit pada pengaruh
sosial, dan faktor situasioanal, serta menggambarkan manusia pada gambaran
terlalu positif.
DAFTAR PUSTAKA
Alwisol. (2005) Psikologi Kepribadian.
Malang : Penerbit Universitas Muhammadyah Malang.
Boeree, CG. (1997) .Personality
Theories :Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog
Dunia. (Alih bahasa : Inyiak Ridwan Muzir). Yogyakarta: Primasophie.
Dirgagunarsa, Singgih. (1978)Pengantar
Psikologi.Jakarta : BPK Gunung Mulia.
Farozin, H. M. Dan Fathiyah, Kartika
Nur. (2004)Pemahaman Tingkah Laku. Jakarta : Rineka Cipta.
Heuken, Adolf S.J. (1979)Tantangan
Membina Kepribadian : Pedoman Mengenal Diri. Kanisius : Yogyakarta.
Koeswara, E.(2001)Teori-teori Kepribadian. Bandung
Eresco.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar